Insinyur Kalsel Gelar Muswil, Ini Isu Penting yang Dibahas

09 Maret 2020



Pemindahan ibu kota negara dari Jakarta ke Pulau Kalimantan turut menjadi atensi kalangan insinyur di Kalimantan Selatan (Kalsel). Hal itu setidaknya terungkap pada acara musyawarah wilayah (muswil) PII Kalsel di hotel berbintang di kawasan Jalan A Yani, Kertakhanyar, Kabupaten Banjar, Kalsel, Jumat (6/3/2020) sore.

Muswil itu pun mengusung tema tentang hal tersebut yakni optimalisasi peran Persatuan Insinyur Indonesia Kalsel menyongsong akselerasi Kalimantan menjadi ibu kota negara, Petinggi pengurus pusat PII dari Jakarta menghadiri muswil tersebut yakni Heru Dewanto (ketua umum). Asisten bidang ekonomi Pemprov Kalsel mewakili Gubernur membuka muswil yang dimulai pukul 15.00 Wita tersebut, Sedikitnya puluhan orang menghadiri muswil itu. Termasuk kalangan pengurus PII Kalsel yang dinakhodadi Prof H Ismed Admad dan pengurus/anggota lainnya di antaranya Hasan Husaini. Hadir pula perwakilan sejumlah pejabat teras dari beberapa daerah.

Di hadapan tamu undangan dan pengurus/anggota PII Kalsel, Heru menegaskan pentingnya transformasi di tubuh PII dalam upaya memperkuat peran insinyur Indonesia dalam berkontribusi pada pembangunan. “Apalagi sekarang kita sudah ada undang-undangnya yang membuka ruang untuk meningkatkan peran. Kalau dulu organisasi kita mirip-mirip LSM atau paguyuban, tapi sekarang sudah menjadi organisasi profesi,” jelasnya. Karena itu pula tiap anggota mesti mengikuti sertifikasi. Ini bagian penting yang mesti diikuti oleh seluruh anggota PII karena menjadi standardisasi terhadap kemampuan teknis. “Saya berharap sertifikasi ini tak terhenti pada aspek administrasi, tapi menyentuh esensi kemampuan teknis,” tegasnya.

Lebih lanjut ia mengatakan pada era globalisasi saat ini tantangan Indonesia makin berat menyusul persaingan yang makin kompetitif antarnegara. Karena itu PII penting mengambil peran guna membantu pemerintah memperkuat kemampuan dan mempercepat kemajuan pembangunan. Salah satu upaya yang perlu dilakuan yakni meningkatkan sumber daya tenaga kerja di negeri ini. Pasalnya hingga sekarang tenaga kerja di Indonesia masih didominasi lulusan SMP dan SMA sederajat. “Tenaga kerja yang sarjana baru sekitar tujuh persen saja. Ini tantangan kita bersama pemerintah untuk terus meningkatkan kualitas SDM tenaga kerja,” sebutnya.

Sumber : banjarmasinpost.co.id


Related News: