Solusi Banjir Jabodetabek

15 Januari 2020



Para ahli dan para profesional berkumpul memikirkan solusi banjir Jabodetabek dalam “ Focus Group Discussion yang diselenggarakan Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (Inkindo) diantaranya, Prof M. Bisri, Muslim Muin, John Paulus Pantouw dan Hari Suprayogi Dirjen Sumber Daya Air Kementerian PUPR di Novotel Samator Surabaya, Selasa (14/1/2020).

Peter Frans Ketua Umun Dewan Pengurus Nasional Inkindo mengatakan, FGD ini digelar untuk memberikan rekomendasi ke pemerintah dalam hal murni ilmu pengetahuan, tidak ada kepentingan politik.

Muslim Muin Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) DKI Jakarta dalam kesempatan diskusi juga memaparkan perbedaan Naturalisasi dan Normalisasi dalam mengatasi banjir Jakarta. Menurutnya, Naturalisasi sungai adalah hal paling tepat mengatasi banjir di Jakarta. “Laksanakan prinsip sungai dengan menahan di hulu (bendungan/penghutanan), menjaga kelancaran di tengah (13 sungai harus dinormalisasi atau naturalisasi yang penting sesuai standar debit,” katanya.

John Paulus Pantouw dari Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional (LPJKN) menilai persoalan banjir di Jakarta harus ditangani tiga provinsi yakni Jabar, DKI Jakarta, dan Banten secara bersama-sama.

Rekomendasi :

  • Pengelolahan Sungai di DKI Jakarta harus satu Kepala/Badan yang berkoordinasi dengan ke 3 Propinsi Jabar, DKI Jakarta dan Banten dalam hal ini tentu Pemerintah Pusat harus memimpin pengelolahan Sungai-sungai yang melewati DKI Jakarta
  • Kembalikan DAS Kritis secara massif untuk bisa kembali ke normal
  • Laksanakan prinsip sungai : Menahan di hulu (penghutanan kembali, pembangunan Bendungan besar dan kecil di semua sungai ataupun anak sungai) ; menjaga Kelancaran di tengah (13 sungai harus dilakukan Normalisasi ataupun Naturalisasi yang penting adalah sesuai standar Debit yang akan direncanakan missal Debit 50 tahunan (debit banjir yang secara statistic kemungkinan terjadi 1 x dalam 50 tahun) dan mempercepat aliran ke Laut (membuat kolam penampungan seperti Pluit dan menyiapkan pompa-pompa bila kondisi muka air laut sama atau di atas muka air sungai);
  • Lakukan penyerapan pada semua bangunan yang ada di DKI (misal contoh konkret Lippo Mall Kemang mempunyai tampungan yang significant 100 ribu meter kubik)
  • Dari studi terakhir dengan kondisi muka tanah yang terus turun dan muka air laut yang naik signifikan karena global warming maka Tanggul laut menjadi pilihan yang tidak terelakan.
  • Lakukan pemeliharaan rutin baik pada sungai maupun banjir kanal (penggalian sedimen dan perkuatan)
  • Disiplin sampah ini harus secara Nasional.

Sumber : suarasurabaya.net

Editor : Restu Indah, PR LPJKN


Related News: