Tokoh LPJK Nasional dari Masa Ke Masa (2003-2007)

05 Februari 2020



Beragam peristiwa mewarnai perjalanan kepengurusan ini dimana persoalan pro dan kontra sudah tidak lagi menjadi satu pembahasan yang mendalam. Namun yang pasti dari kepengurusan Sulitijo ini jika bisa dikatakan inilah dinamika baru dalam perjalanan LPJK Nasional menuju lembaga yang bisa di katakan independent dan kredibel. Hal itu bisa dilihat dari beberapa kondisi yang pada akhirnya bisa menjadikan LPJK Nasional seperti saat ini. Dengan dedikasi dan profesionalisme yang diterapkan Sulistijo dalam mengemban amanat pelaku jasa konstruksi nasional, hingga pada akhirnya beberapa masalah yang mungkin timbul bisa diatasi dari persoalan yang menyangkut pendanaan guna mendukung dan menjalankan semua fungsi lembaga dalam hal bidang penelitian dan pengembangan maupun pendidikan dan pelatihan. Sekalipun jalan keluar dari masalah ini sudah ditetapkan sesuai dengan hasil Munas LPJK Nasional tahun 2003 yang intinya bahwa untuk masalah pendanaan apa yang tersebut diatasi dengan skema pemungutan levy sebesar satu permil dari setiap perolehan kontrak senilai diatas satu milar.

Namun dalam perjalanannya sekalipun sudah di putuskan dalam Munas sekalipun kenyataanya hal itu belum dapat dilaksanakan secara maksimal karena menyangkut berbagai alasan. Yang pasti dari kepengurusan periode ke-dua ini prestasi yang bisa dicatat dalam sejarah perjalanan LPJK Nasional dari masa ke masa adalah LPJK Nasional sudah mulai menjalankan apa yang diamanatkan dalam Undang Undang Jasa Konstruksi yang juga tertuang dalam tugas pokok LPJK Nasional yaitu melakukan berbagai kegiatan seperti Penelitian dan Pengembangan, Pendidikan dan Pelatihan, Akreditasi Asosiasi Perusahaan, Asosiasi Profesi maupun Lembaga Pendidikan dan Pelatihan serta Registrasi dan Sertifikasi Badan Usaha, Tenaga Ahli dan Tenaga Trampil.

LPJK Nasional juga telah berhasil menetapkan norma-norma dan standar berupa Bakuan Kompetensi Keahlian, Ketrampilan danTolak Ukur Kegagalan Bangunan, disamping juga mengadakan pelatihan–pelatihan asesor, pengembangan Sistem Informasi serta pengembangan peluang pasar jasa konstruksi. Bukti dari keberhasilan kepemimpinan Sulistijo dalam membawa LPJKN menuju dunia kontruksi Indonesia memasuki babak baru dalam perjalanannya menuju cita-cita usaha jasa konstruksi yang kuat, berdaya saing, efisien, serta memiliki produktivitas tinggi adalah dapat dilihat dari beberapa pencapain sebagai berikut :

  1. Per bulan Maret 2007, asosiasi perusahaan yang terakreditasi di LPJK Nasional sebanyak 24 asosiasi, sementara yang terdaftar namun belum terakreditasi 11 asosiasi. Sebanyak 12 asosiasi profesi telah terakreditasi, sementara 13 lainnya masih dalam proses untuk mendapatkannya. Selain itu akreditasi juga telah diberikan pada 14 Badan Diklat, seiring bergulirnya proses registrasi dan sertifikasi bagi tenaga ahli, tenaga trampil, maupun badan usaha dalam bidang konstruksi.
  2. Jumlah badan usaha, tenaga ahli, dan tenaga trampil yang mendapatkan sertifikasi juga menunjukan peningkatan. Jumlah badan usaha yang telah terdaftar dan memperoleh sertifikat mencapai 124.930 badan usaha. Sementara untuk tenaga ahli, dan tenaga trampil yang telah terdaftar dan tersertifikasi sebanyak 27.234 tenaga ahli dan 95.395 orang tenaga trampil.
  3. Demikian pula dalam kaitan menjalin kerjasama aktif dengan lembaga terkait baik yang ada di dalam maupun di luar negeri.

Dalam masa kepengurusan Sulistijo ini tercatat banyak menghasilkan beberapa kerjasama seperti misalnya :

  1. Dengan lembaga atau institusi dalam negeri : Departemen Pekerjaan Umum, Departemen Keuangan, Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Departemen Dalam Negeri, Departemen Tenaga Kerja, ESDM, serta Bappenas. Belum lagi dengan lembaga non kementrian seperti dengan BNSP, BAN, BSN, KPPU, dan Bank Indonesia, Perguruan Tinggi, Lembaga ISO, Akuntan Publik, Perbankan,Asuransi, KADIN, serta lembaga independent lain dibidang konstruksi seperti KAKI ( Komunitas Aksi Konstruksi Indonesia), bersama KAKI inilah LPJKN merumuskan Road Map Jasa Konstruksi demi penyatuan langkah dunia konstruksi nasional ke depan.
  2. Dengan lembaga di luar negeri, LPJKN pun aktif dan ikut serta dalam beberapa kegiatan yang bersifat memajukan dunia konstruksi seperti : LPJK Nasional aktif berpartisipasi dalam perundingan-perundingan internasinal baik dalam lingkup multilateral, bilateral dan regional dengan forum-forum di WTO, EPA serta ASEAN/CCS Meeting. Bahkan LPJK Nasional ditunjuk oleh Menteri PU untuk menjadi Profesional Regulatory Authority (PRA) untuk pihak Indonesia dalam pembentukan Monitoring Committee seiring tercapainya kesepakatan MRA bidang Engineering .
  3. Bahkan dalam beberapa forum-forum internasional beberapa pandangan LPJK Nasional juga mendapat perhatian dari kalangan praktisi maupun pengambil kebijakan negara lain. Antara lain mengenai Capacity Building bagi perusahaan kecil dan menengah, serta usulan adanya Forum pertukaran informasi konstruksi di kawasan Asia Pasifik-Asia Construct, agar menjadi ajang yang mampu membuka peluang pasar dan menghasilkan kerjasama bisnis konstruksi yang lebih konkrit seperti termuat dalam “ Bali Statement “ yang digulirkan dalam penyelenggaraan Asia Construct ke-11 di Bali tahun 2006.

Pada akhirnya kita melihat bahwa dimasa kepemimpinan Sulistijo inilah, keberadaan LPJK Nasional tidak saja menjadi satu lembaga yang bersifat independent dan kredible di mata pelaku jasa konstruksi nasional tapi juga internasional. Sebuah bukti yang dapat kita lihat bahwa dengan kerja keras dan komitmen yang tinggi niscaya kita bisa melihat bahwa LPJK Nasional yang diawalnya menimbulkan banyak pro kontra justru pada akhirnya menjadi satu lembaga yang bisa dibanggakan baik di dalam dan juga di luar negeri.

Sumber : Bulletin LPJK Nasional, 08/2014


Related News: